Telusur Rasa: Tok.. tok.. tok! Kulon(y)uwun Kopi Klotok

Sabtu 23 Agustus 2025, sore itu jingga agak malu menampakkan dirinya. Sebuah surup yang begitu redup. Tiga remaja zaman baheula bernama Bella, Ifa dan Moshi menembus kabut tipis di areal persawahan dan melewati beberapa perkampungan dalam misi mengenyangkan perut mereka. Warung Kopi Klotok Kaliurang yang berjarak 7,6 km dari penginapan Eyang Cokro Hinggil-lah tujuannya. Udah ah pakai sudut pandang orang ketiganya, bingung sendiri jadinya. Pindah ke sudut pandang orang pertama ya. Hahaha.

Mendekati warung Kopi Klotok mulai terpampang papan petunjuk berwarna hijau yang memberi informasi "Kopi Klotok 100 meter lagi ... 50 meter lagi...dst" disertai dengan keterangan sayur lodeh dan tempe goreng. Membayangkan saja sudah membuatku kemecer. Semoga tidak antre panjang ya. Kita sudah mempersiapkan mental untuk mengantre sebelum berangkat tadi. Tidak boleh ada yang tantrum pokoknya semisal antre lama: tenang, kalem dan kuasai.

Sesampai di lokasi parkiran, terlihat kendaraan yang begitu ramai. Kita langsung menuju bangunan tradisional yang selaras dengan suasana pedesaan itu. Ada dua mbak-mbak among tamu di depan pintu masuk. Setelah mengamati keadaan sekitar, kita memilih tempat duduk lesehan di ruang terbuka dengan pemandangan sawah, pohon kelapa dan burung merpati putih dalam sangkar. Beruntung sekali, walaupun tempatnya ramai kita tidak perlu antre. 

Remaja Zaman Baheula

Sistem makan di warung kopi klotok ini adalah prasmanan dengan bayar belakangan. Aneka sayur mayur dan lauk pauk dihidangkan di meja. Untuk memesan minum tinggal ambil di dapur khusus minuman. Seingatku yang selalu di restock adalah es teh dan teh panas. Sedangkan teh tubruk, kopi klotok dan minuman lainnya dibuat by request. Menu primadona di warung ini adalah pisang goreng yang bisa dipesan di dapur bagian belakang.

 
Menu Prasmanan

Aku memilih menu nasi, sayur lodeh terong, tempe goreng, telur dadar, dan es teh. Bella memilih menu nasi, sayur lodeh tempe, tempe goreng, tahu bacem, krupuk dan teh panas. Moshi memilih menu nasi, sayur sop, telur dadar dan teh tubruk. Teh tubruknya bercita rasa ginastel: legi-panas-kentel. Gulanya ada dua, gula batu dan gula jawa. Kita tidak kepikiran mencicipi kopi klotok karena takut kena efek berdebar dan perasaan jadi tidak menentu. Maklum, kita bukan kopi holic. Untuk sayur lodehnya berbumbu medok-enak-mantap, tempe gorengnya gurih, telur dadarnya krispi ditambah sambal dadak yang pedes-gurih, beuh rasanya sopan disetiap suapan.



O iya, menu wajib yang tidak boleh terlewatkan adalah pisang goreng. Moshi menjadi sukarelawati untuk memesan ke dapur. Dia memesan tiga porsi pisang goreng. Satu porsi pisang goreng dapat dua biji. 

"Kayake meh tak bungkus wae deh. Perutku nggak cukup."

Begitulah komentarku dan Bella pertama kali melihat pisang goreng yang dibawa Moshi. Sedikit menyesal kenapa aku harus kebanyakan menyentong nasi. Tapi pada akhirnya kita bisa menghabiskan pisang goreng itu. Betul kata Moshi, bisa kok memberi sedikit ruang di perut untuk dua biji pisang goreng, toh bukan makanan yang memberatkan. 

Pisang Goreng

Banyak orang yang bilang kalau pisang goreng Kopi Klotok ini paling enak seantero Jogja. Sepakat sih, walaupun aku belum pernah nyobain pisang goreng seantero Jogja tapi sejauh ini pisang goreng kopi klotok adalah pisang goreng terenak yang pernah aku makan. Ukuran pisangnya jumbo dengan harum yang menggoda. Rasa manisnya pas, teksturnya tidak terlalu mblenyek ataupun keras dan ora ngemu minyak alias tidak menyerap minyak. 

"Piye ya carane menjaga kualitas pisang?" tanya Moshi pada orang yang salah.

Secara keseluruhan, Warung Kopi Klotok ini perlu dicoba. Harganya masih masuk akal dan tidak memalak pelanggan dengan fasilitas tempat makan yang mewah alias mepet sawah itu. Mereka beneran menjual makanan tidak hanya sekedar menjual sawah eh tempat maksudnya.

Harga Menu

Selepas menghabiskan makanan kita tidak langsung pulang, melainkan numpang sholat -> hunting foto di penggorengan pisang -> rebahan sambil memandangi bintang yang lagi bersinar redup.

   
Mengintip Dapur Pisang Goreng


Siap-siap beralih ke sudut pandang orang ketiga lagi. Hihihi.


Malam itu dibawah nyiur pohon kelapa, tiga remaja zaman baheula merebahkan boyok jomponya secara terlentang. Tidak ada iringan ombak yang beradu dengan batu karang. Hanya dentingan piring yang beradu dengan sendok milik orang-orang seberang. Kantukpun mulai menerjang. Hingga pada akhirnya mereka sadar untuk segera pulang. Distarternya motor matic dengan perut kenyang menembus jalanan malam yang tak begitu terang.


Comments

Popular posts from this blog

Kelana Alam: Ekspedisi Menyelam Ke Baduy Dalam

Kelana Alam: Ekspedisi Menyambangi Banyuwangi